Kisah Saya, Santri dan Toilet

“Jujur, saya tidak ingin menceritakan kisah ini. 
Namun setelah Bang Deddy Ridwan membagi kisah ini di blog nya, saya juga ingin berbagi kisah inspiratif ini dengan sahabat semua. Semoga bermanfaat.”
Sepulang dari kunjungan ke Sydney – Australia dalam rangka membuka jalur tur wisata dan mengundang donatur pembangunan pesantren enterpreneur, saya menginap di rumah pondok santri dalam komplek Dayah Baitul Ihsan Samalanga. Saya langsung ingin melanjutkan pengajian yang sudah seminggu ditinggalkan. Pagi itu  saya berencana akan menuju Bireun untuk memantau kantor cabang Elhanief Group dan rapat dengan para manager.
Saat sedang bersiap berangkat, saya melihat sekelompok santri putri sedang berkumpul seperti ada sesuatu kejadian. Saat sedikit mendekat, saya melihat seorang santri putri menangis di kelilingi teman-temannya. Karena penasaran, saya mencari tahu dan bertanya kepada para santri putri tersebut.
“Ada apa ini, kenapa kok ada yang nangis?” tanya saya.
Seorang santri memberanikan diri bercerita, bahwa sahabat mereka yang menangis tersebut adalah santri dari Malaysia, yang ingin memperpanjang VISA tinggal untuk melanjutkan pendidikan di dayah.
“Terus masalahnya apa, langsung ke Lhokseumawe dan urus perpanjangan,” saran saya spontan.
Sang Santri lalu menceritakan masalahnya, bahwa izin perpanjangan Visa-nya sudah terlambat satu minggu dan dikenakan denda, sekitar 150 ribu perhari (saya tidak begitu ingat nilai pasti dendanya). Sementara saat ini tidak punya uang dan belum mendapatkan kiriman dari keluarga di Malaysia karena suatu hal. Padahal santri tersebut masih sangat ingin menetap belajar di dayah.
Mendengar cerita si santri, Saya langsung teringat masa-masa sulit yang pernah di alami saat merantau ke Malaysia. Setiap hari saya bekerja sebagai penjual ikan dan pekerjaan lain dengan penghasilan yang di bagi untuk makan dan biaya hidup, sekaligus ada yang disisihkan sebagai tabungan untuk biaya melanjutkan kuliah ke Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Saya ingat orang-orang Aceh yang baik hati membantu di Malaysia, seperti Tgk Murtala yang memberi uang jika tidak ada pekerjaan, juga Kak Farhati yang memberi makanan saat kelaparan tidak ada uang membeli nasi, hingga memberi tumpangan tempat tinggal.
Tanpa pikir panjang langsung timbul keinginan saya untuk membantu santri tersebut, memberikan uang untuk biaya perpanjangan Visa termasuk denda yang sudah mencapai 2 juta lebih. Tapi saya  baru sadar tidak memegang uang cash karena baru tiba di Aceh. Saya lalu menanyakan kepada adik Ratna Abdullah apakah punya simpanan uang. Ratna menyebut ada uang kantor cabang El Zamzam Swalayan cabang Samalanga yang dipegangnya. Saya pinjam saja uang tersebut dan meminta Ratna memberikan uang kepada santri seberapa yang dibutuhkan termasuk ongkos ke Lhokseumawe, sambil berpesan untuk segera di urus hari itu juga.
Karena sudah hampir siang, saya langsung berangkat ke Bireun untuk tugas memantau kantor cabang dan melupakan kejadian pagi tersebut.
Telpon yang tidak di Duga
Usai Shalat Dhuzhur Seorang rekanan menelpon bahwa ada donatur yang ingin menyumbang untuk pesantren yang sedang saya bangun  di Aceh Utara.Sumbangan tersebut berupa hibah 2 unit bangunan rumah  dan 10 unit Toilet atau WC dengan nilai hampir ratusan juta rupiah, yang nantinya akan dibangun dalam komplek pesantren Raudhatul Quran. Saya terharu sangat bahagia dan bersyukur kepada Allah atas rejeki yang saya anggap dari jalan tidak diduga tersebut.
Saat kembali ke dayah saya menceritakan kabar gembira tersebut kepada Ratna. Adik saya itu sambil bersyukur berkata,
”nyan keuh kadang geubalah lee Allah atra neu seudekah buno beungoh bang,”
(Itulah mungkin balasan Allah atas sedekah abang tadi pagi)
 “Hah?! Subhanallah..” saya sangat terkejut dan baru sadar tentang kejadian pagi itu yang sudah saya lupa.
Pembaca yang dimuliakan Allah, kisah ini menjadi hikmah bagi kita, betapa shadaqah yang penuh keikhlasan walau nilainya tidak seberapa namun sangat berarti bagi yang menerima, maka Allah akan membalas berlipat ganda dengan cara-Nya yang tidak kita duga-duga.
Semoga menjadi inspirasi kepada kita semua khususnya saya, agar kita selalu bersadaqah baik dalam kemudahan maupun kesulitan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here