Ketika Saya Menjadi “Stuntman” Linto Baro

0
275

Kemarin, Senin (3/9/2018) Saya sempat memposting sebuah photo di media sosial, facebook Akmal Elhanief dan Instagram abi_akmal_elhanief . Yaitu photo saya duduk di singgahsana Linto Baro dalam sebuah masjid, dengan caption “Alhamdulillah. Sah..” 

Photo tersebut langsung mengundang berbagai komentar dari sahabat-sahabat medsos. Ada yang mengucapkan selamat dan mendoakan, ada yang tertawa sambil sebut Hoax, bahkan sahabat di luar Aceh yang menelpon saya penasaran campur sedikit marah karena mungkin merasa tidak dikabari. Tapi lucunya ada beberapa teman dari barisan emak-emak yang wa dan inbox bilang patah hati…hahaha…(na na saja) tapi saya yakin cuma bercanda.

Sama halnya seperti postingan tersebut hanya candaan saya untuk menghibur kawan-kawan sambil menyambung silaturahim di media sosial. Adegan photo itu sendiri di “sutradarai” oleh seorang yang emang udah terkenal jahil, yang dalam photo itu terlihat memakai peci merah dengan wajah sok serius di samping saya. Udah tau lah siapa..hehe

Photo itu adalah momen saat saya menghadiri sekaligus menjadi saksi pernikahan adik sepupu saya T. Saiful Mudatsir, Manager Eksekutif Elhanief Central Plakat. Prosesi pernikahan itu sendiri sangat emosional bagi saya.  Terharu, mengenang sosok Saiful selama bekerja membangun Elhanief bersama sama saya.

Saiful adalah salahsatu dari sekian banyak karyawan elhanief group yang berhasil ditempa perusahaan menjadi sosok pengusaha yang sukses. Dulunya, awal bergabung dengan elhanief, dia adalah SDM dengan keahlian “Zero” alias Nol Besar, bahkan tidak mampu mengoperasikan komputer. Saya memberi kesempatan ia bekerja sambil belajar, hingga setahun pertama ia telah memiliki kemampuan desain dan mengoperasikan mesin cetak.

Saat kondisi kerja semakin baik, malapetaka terjadi. Sebuah kesalahan besar dilakukan Saiful membuat saya murka. Ia ketahuan merokok di ruangan kantor, salahsatu pelanggaran berat dalam perusahaan yang saya bangun dengan keringat dan airmata. Jika karyawan lain melakukan kesalahan yang sama, konsekwensinya adalah di keluarkan. Namun karena Saiful adalah adik saya, rasa kecewa besar membuat saya sempat “mencubit” dia saat itu (bahasanya saya perhalus) dan saiful diberhentikan dari pekerjaan.

Setelah berulang kali minta maaf dan melibatkan mak cik saya (ibunda Saiful) serta beberapa keluarga, akhirnya sebulan kemudian Saiful kembali saya terima bekerja setelah berjanji tidak mengulangi kesalahan. Ia bahkan total berhenti merokok. Alhamdulillah. Jadi kalau ada sahabat mau berhenti merokok, jumpai saya, biar saya cubit juga…hehe.

Setelah beberapa tahun bekerja, Saiful saya percayakan menjadi memegang salahsatu cabang  perusahaan Elhanief Group yaitu Central Plakat, yang saat itu berkantor di Batoh, Banda Aceh. Kerja keras, kesungguhan, ketekunan dan tekad untuk sukses, membuat Saiful sukses membawa Central Plakat menjadi kantor cabang dengan produktifitas terbaik di elhanief group dengan omset ratusan juta rupiah perbulan.

Saiful sendiri dari gaji hanya 400 ribu rupiah saat pertama kali bekerja, kini memiliki pendapatan mencapai belasan juta hingga terkadang menembus 20 juta rupiah perbulan, tergantung pencapaian kantor cabang yang di pimpinnya. Saya merasa bahagia dan bangga, jika ada karyawan yang bisa sukses dan memiliki penghasilan yang baik. Karena di Elhanief, setiap karyawan berpeluang mendapat penghasilan besar, jika berani mengambil kesempatan untuk sukses.

Hari ini Saiful sudah memiliki kendaraan roda empat dan menikah yang semuanya di biayai sendiri dari hasil bekerja di Elhanief Group.

Selamat Saiful, Semoga menjadi Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here