Ketika “Asin Garam dan Pahit Kopi” Menjadi Haram

Oleh : H. Abi Akmal Hanif. Lc

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kaifa Hal Sahabat yang di Rahmati Allah, Apa Kabar Antum di Hari Jumat ini? Dari Masjidil Haram kota Makkah, Saudi Arabia, kami doakan sahabat semua Sehat dalam Ridha Allah.

Di hari jumat ini saya ingin berbagi sedikit pendapat yang semoga menjadi motivasi bagi kita semua. Berawal dari ketertarikan saya pada headline Serambi Indonesia, edisi Rabu, 13 Desember 2017, berjudul Mayoritas Garam Aceh Bernajis?

Menurut saya, masyarakat Aceh perlu membentuk sebuah komunitas pedagang muslim yang profesional dan handal, Salah satu misi komunitas ini untuk membina pedagang di Serambi Mekkah ini agar berjualan secara syariat & halal. Komunitas ini juga berfungsi sebagai pengawas sekaligus mendesak pemerintah, jika pemerintah belum menerapkan ekonomi berbasis Syariah di Aceh ini. Contohnya Bank Konvensional, rentenir (lintah darat), lembaga penyedia pinjaman kredit, leasing penyedia pinjaman untuk pembelian kendaraan secara kredit dll.

Saya ingin berbagi sebuah Kisah Nyata ketika dalam perjalanan ke Takengon. Saat kami duduk ngopi di salah satu café, tiba-tiba saya melihat seekor anjing duduk diatas biji kopi yang sedang dijemur dipinggir jalan. Saya terus memperhatikan hingga tidak lama anjing itu bangun mengangkat sebelah kaki dan kencing di atas biji kopi yang sedang dijemur tersebut. Sejak menyaksikan langsung kejadian itu, saya mulai jarang minum kopi dan beberapa kawan juga langsung “ilfil” dari candu kopi.

Cerita lain, saat duduk di warung Relui Mangat di Samalanga. Saya melihat penjual martabak telur meletakkan telur dalam keranjang, bukan di rak. Saya menduga telur telur tersebut sudah dicuci kulitnya sebelum di olah menjadi martabak. Untuk menghilangkan penasaran, saya tanyakan pada pedagang tersebut. Dugaan saya benar, si abang penjual martabak menjelaskan telur-telur yang dia beli sudah di cuci dulu sebelum di goreng agar suci dari najis kotoran ayam salahsatunya.

Kasus-kasus yang saya sebutkan tadi, minum kopi yang bijinya dikencingin anjing itu najis, makan telur tanpa dicuci kulitnya itu juga najis. Dan hukum makan najis adalah HARAM. Jadi sobat saya semua yang saya hormati, ini adalah masalah yang perlu kita pikirkan bersama.

Lalu bagaimana solusinya?

Menurut hemat saya ada beberapa langkah solusi terhadap masalah yang terkesan sepele namun berdampak besar ini.

  1. Pemerintah sebaiknya tidak hanya sekedar menyalahkan masyarakat. Namun pemerintah juga harus lebih peka dan memiliki hati nurani untuk membantu pedagang sekecil apapun itu, dengan kapasitas jabatan yang dimiliki.

“Bek Lhoh Gob Sabee, Tapi Lhoh Droe Sigo go”. (Jangan Asik melihat kesalahan orang lain, tapi sesekali melihat dan intropeksi diri sendiri)

Saya melihat pemerintah lebih sering mempersulit dan mengambil keuntungan dari masyarakat yang ingin berusaha, daripada memberi solusi dan kemudahan.

Izinkan saya memberi contoh yang alami sendiri. Selama beberapa tahun terakhir, setiap saya buka usaha di suatu daerah saya selalu berniat dapat membuka lapangan kerja dan menyediakan pelayanan kepada masyarakat daerah tersebut. Tapi di bulan awal masih tahap promosi dan baru perektrutan karyawan, tidak lama sudah datang pegawai pemerintah daerah menagih pajak ini dan itu. Sebagai warga negara saya adalah orang yang taat membayar pajak. Saya memiliki NPWP pribadi dan perusahaan, yang semua membayar pajak sesuai ketentuan. Tapi kenapa pemerintah sepertinya lebih mementingkan “mengejar keuntungan target pendapatan daerah” dengan berlomba memungut pajak, daripada memberi kesempatan pengusaha ikut membangun perekonomian daerahnya?

Jadinya saya melihat pemerintah daerah di Aceh ini seperti segerombolan orang bodoh yang lebih suka mengeluarkan kebijakan yang cenderung “membunuh rakyat”, mematikan usaha rakyat kecil, dan mempersulit masyarakat yang ingin membangun usaha. Kenapa pemerintah tidak membuka “mata hati dan pikiran” untuk membangkitkan ekonomi umat Islam.

Oke lah saya tidak mau ekstrim menyebut sistem ekonomi di negara-negara Arab atau negara-negara Islam. Saya ajak pemerintah belajar dari kebangkitan ekonomi di China. Pengalaman saya berkunjung dan mempelajari ekonomi di China, saya salut karena semua urusan pengurusan administrasi dan surat izin dagang, pemerintah China menyediakan fasilitas pelayanan tanggap dan cepat, selesai dalam waktu 1 x 24 jam atau hanya sehari. Di China semua usaha didukung dan mendapat pembinaan oleh pemerintah dan tidak dipungut pajak apapun dalam dua tahun pertama usaha tersebut dibangun oleh warganya. Tapi kita di Indonesia dan di Aceh yang nanggroe kaya dengan sumber daya alam, malah pemerintah sibuk berlomba memungut segala jenis pajak “hantu blawu”. Padahal seharusnya pemerintah Aceh dan pemerintah daerah lebih memirkan untuk memberi kemudahaka pada para pelaku usaha di Aceh, termasuk membantu pembinaan petani, baik petani garam, petani kopi dan lain-lain.

2. Solusi kedua adalah dari kita pemuda. Ayo, mari wakafkan diri kita untuk berjihad ekonomi di Aceh ini. Jangan jadi pemalas atau hanya mengandalkan kekayaan orangtua. Pemuda Aceh harus kreatif dan mandiri. Yang juga dapat kita lakukan membantu pemerintah adalah dengan membentuk wadah kerjasama untuk membina petani-petani di Aceh ini. Misalnya dengan berbagi tugas antara wadah pemuda dengan kelompok petani garam. Mari kita rangkul mereka, memberi pembinaan peningkatan kwantitas produksi, mensosialisasikan tentang nilai syariat guna menghasilkan kwalitas produksi yang halal, suci dan baik, serta membantu dalam hal strategi pemasaran. Petani garam mungkin tidak begitu memahami tentang teknologi pengolahan produksi, disitulah peran kita pemuda memberi pembinaan dan pengajaran.

Sehingga saat petani garam tetap bertani di ladangnya, kita sebagai pemuda turut bekerja mempromosikan hasil produksi yang baik dan halal sesuai syariat. Jika nantinya telah memberikan peningkatan ekonomi maka dapat dilakukan bagi hasil yang saling menguntungkan.

Tapi jika hanya menyalahkan petani tanpa ada pembinaan, itu sangat tidak bijaksana dan saya sangat tidak setuju. Alangkah kasihan petani garam yang berusaha sendiri lalu kemudian di hakimi dengan hasil produksi yang tidak halal. Padahal dari situlah sumber rejeki mereka, isi periuk mereka, untuk membiayai anak-anak petani garam sekolah, semua karena “masih asinnya garam mereka.’’

Kita juga tidak boleh berlama-lama dalam kondisi barang yang kita jual jauh dari nilai syariat. Saya sendiri siap mewakafkan diri untuk kebangkitan ekonomi di Aceh. Insya Allah sepulang dari Mekkah, saya akan kunjungi petani garam yang belum mendapat pengakuan halal, untuk melihat permasalahan dan memberikan bantuan pembinaan atau bantuan lain yang dapat saya berikan sesuai kemampuan saya.

Kepada rekan-rekan yang memiliki kepedulian pada hal ini dan ingin bergabung dalam Komunitas Pengusaha Muslim Aceh, mari kita bersama membangun ekomoni Aceh yang bersyariat. Dapat kita mulai dengan berbuat hal-hal kecil seperti seperti membina petani garam di Aceh.

Salam Revolusi Pemuda Aceh.

Hasbunallah wa Ni’mal Wakil, Salam Jumat Mubarak, Salam dari Masjidil Haram.

 

*H. Abi Akmal Hanif, Lc.

Ketua Umum Komunitas Solidaritas Dhuafa Aceh(KSDA).

CEO Elhanief Group

dikutip dari : Motivasi Jumat, Edisi – 08, 26  Rabiul Awal 1439 H – 15  Desember 2017

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here